Thursday, 13 October 2011

Berburu Belahan Jiwa


Hasil jepretan saya yang pertama
Fotografi .. saat terbesit kata tersebut, dikepalaku yang tergambar hanya jejeran foto. Tapi, entah ada angin apa tiba-tiba aku menyukai kata fotografi dan hal-hal yang berbau fotografi. Mulai dari kamera, teori, dan hasil jepret teman-teman disekitarku. Saat melihat sebuah foto, aku merasa sedang ada yang mendongeng. Visual dan mata adalah pendongengnya. Dan fotografer adalah pencipta naskahnya. Tiap pixel warnanya adalah makna, membangun suatu cerita.. dan menjabarkan imaji yang begitu luas hingga terkadang otak dan intelegensi tak mampu menjamahnya. Foto bukan sekedar paduan warna yang dicampur menjadi satu, bukan juga hitam putih yang syahdu, bukan juga sekedar guratan simetris garis. Dia bermakna luas, seluas cakrawala yang tak temu titik ujung. Tiap warna adalah cerita, tiap garis adalah pencipta suasana. Begitu indah dan mempesona.
Saat akhirnya keinginan untuk lebih bisa mengenal fotografi lebih jauh membuncah, aku meminang Canon EOS 550 D. Saat itu sebenarnya sama sekali tidak terbesit dipikiranku untuk memilih canon. Karena jujur saja, aku jatuh cinta pada Nikon D5000. Namun yang namanya jodoh, ternyata datang tidak diduga-duga .. hehehe ^^ . Waktu itu aku ke Photo Pantai (red: sebuah toko peralatan potret di kota Malang). Cari nikon D5000, namun ternyata sangat sulit sekali. Karena sudah termasuk barang lama dan apalagi sudah disusul dengan adiknya, yaitu D5100 (red: new product). Dengan harga yang luar biasa waow kalau menurutku pribadi. Keinginan untuk meminang D5000 masih belum pupus juga. Aku pun beralih ke Hartono Elektronik (jl. Letjen S.Parman, Malang). Saat tiba di stan khusus DSLR, mataku terus mencari-cari sosok D5000. Namun hasilnya nihil. Aku pun putus asa dan mulai mencari-cari SLR yang lain. Tiba-tiba salah satu kawanku menawarkan nikon D90 dengan harga 7 juta, second dan tanpa lens kit. Sangat menggoda sekali tawaran tersebut, sebuah D90 .. kapan lagi gitu lho. Benar-benar dilema dan galau. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengambil D90 itu, atas pertimbangan karena itu barang second dan takut akan resiko yang bakal datang dikemudian hari.
Mataku masih terus mencari-cari sosok pujaan hati #eeeaa. Dan akhirnya, pandanganku jatuh pada deretan EOS. Nampak duduk diatas meja kaca sebuah SLR berwarna hitam legam. Begitu angkuh dan kekar. Ya !! i have found you !! Langsung jatuh cinta pada SLR yang satu ini. 18 mega pixelnya berhasil menyihirku. Aku langsung menghubungi si penjual dan mulai bertanya-tanya tentang SLR yang notabene adalah 550D, adik kandung dari Canon EOS 500D .. hehehe. Deal !! ku pinang kau dengan duit sebesar 6, 49 juta. Masih dapat body sama lens kit doang, Rasanya kurang sreg kalau gak beli MMC sekalian tas-nya. Aku ambil MMC V-gen 8 gb seharga 119 ribu. Sama tas Lowepro, yang lumayan gede. Bisa buat naruh SLR sama lensa+chargernya. Seharga 369 ribu. Jadi pas, duit dikantong tinggal 2 ribu.. cukup buat bayar parkir doank.. hahaha. Rasa lelah dan tongpes rasanya menguap begitu saja saat merasakan bahagia karna EOS pujaan sudah dalam pelukan. hihihi.

Otodidak, asal jepret dan cuma main-main. Itu lah modal awalku saat belajar fotografi. Jepret sana sini, amati dan mulai menghafal cara kerja SLR ku. Aku benar-benar entry level sejati, sesuai dengan EOS ku yang memang ditujukan untuk kalangan entry level. Tapi semangat dalam hati masih menggebu-gebu, meski hanya bermodalkan lens kit, tetep pede saja. Tidak ada tuntutan untuk langsung mahir. Itung-itung ini adalah titik 0 dimana aku mulai menapakkan kaki di dunia per-fotografi-an. Sebagai newbie, sebagai entry level dan sebagai pemula yang luar biasa buta akan fotografi.

No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN