Saturday, 22 October 2011

Sepasang Dosa

Turunan Adam itu termenung saat mendapati dirinya berada didalam sebuah akhir kemaksiatan. Tanpa sehelai benang, ia mengutuk dirinya sendiri. Matanya terbelalak disaat ia melihat paras wanita yang dipujanya berada disisinya. Merengkuhnya dan serasa tak ingin melepasnya. Wajah polos namun penuh candu. Wanita itu benar-benar menyihirnya. Mengalahkan candu apapun yang ada didunia ini. Begitu indah dan menggoda. Setiap lekuk wajahnya adalah masterpiece dari Tuhan. Setiap hembusan nafasnya adalah aroma surgawi. Anak Adam tersebut mengamati wanitanya dalam-dalam, ia tau mereka telah melakukan kesalahan terbesar yang pernah ia torehkan dalam sejarah cinta mereka. Mereka berdiri bukan lagi atas nama cinta. Kecintaan mereka bergeser dan berganti alih menjadi deru nafsu yang tak henti merongrong rongga jantung mereka. Anak Adam itu lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri, Penyesalan itu selalu datang diakhir. Mana mungkin sebuah penyesalan akan nampak diawal? Nampak gigi-gigi menyeringai ditengah gumul mereka. Senyuman kemenangan dari iblis durjana yang berhasil menumpahkan rayuan untuk anak Adam. Anak Adam itu berteriak dan membenturkan dirinya sendiri ketembok batu sekuat tenaga yang ia punya. Mata membelalak dan mulut menganga, nafas seperti terhenti ditenggorok. Dada kembang kempis, dan lidah kelu. Pandangan kabur dan menghitam. Roh-nya melayang, membuai langit dan menguap. Perpindahan dari alam fana ke alam baka. Menjunjung dosa dan tak sempat mencecap taubat. Sayang sekali, kesempatan bertaubat lenyap. Mungkin lain kali Tuhan akan berbaik hati?.. Kemenangan berada didalam genggaman sang iblis. Ia berhasil menunaikan kewajibannya, sebuah kewajiban yang menyeret anak Adam itu terjerembab dalam lubang zina. Wanita dan zina adalah candu. Jika engkau mencicip barang setetes, maka haus akan terus meraja ditenggorokmu. Dan ujung-ujungnya adalah iblis yang mengambil alih imanmu. Pintar-pintarlah menjaga hati dan pandanganmu wahai anak Adam. Pintar-pintarlah mengatur nafsumu .. musuh terbesar yang mendekam diam didalam jiwamu.




No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN