Monday, 24 October 2011

Tak Lebih dari Cinta

Ketika waktu tak lagi terkejar dan ketika menua itu datang menghampiri, aku terperanjat dari tidurku. Aku yang muda dan penuh obsesi. Kian memudar dan merapuh. Saat kakiku menginjak bumi, semua cinta dari wanita tangguh yang ku sebut ibu mengucur membasahi setiap ujung sendi-sendi jiwaku. Lengkap dengan kehadiran seorang ksatria yang biasa aku sebut ayah. Namun, ketika cinta hadir dalam bentuk lain dan mengisi satu ruang di lubuk yang paling dalam.. aku tergoda dan begitu penasaran. Ingin merasakan cinta dalam bentuk lain itu. Indah, menawan dan begitu mengejutkan. Aku menengok dan kudapati pasanganku. Salah seorang pria dari jenisku yang mampu menyihirku dengan ketulusannya. Dan ketika waktu mengharuskan aku untuk segera mengukuhkan cinta, memberi penghargaan tertinggi untuk calon-calon anakku. Memberi kedua pahlawanku senyum-senyum kecil dan kaki-kaki mugil. Membuka apa yang mereka sebut hidup baru. Namun, maaf sayang .. Aku ini pecundang, aku ini pengecut. Aku belum siap memegang kunci yang akan membuka hidup kita yang baru. Aku takut menua, aku takut kehidupanku cepat berakhir, aku takut waktu berjalan begitu cepat, aku takut anak-anakku menyerap separuh hidupku. Aku ingin menarik waktu, agar ia mau berjalan pelan. Masih terlalu dini, masih terlalu pupus.. tapi tenang, Cinta tak pernah mengelak dan cinta tak pernah melangkahi takdir ...

No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN