Thursday, 13 October 2011

Tak Secerah Senyum Devita


“Kriiiiiiiiiing.. Kriiiiiiing!!” alarm itu menjerit-jerit keras dalam kamar mungil Devita. Nampak sesosok gadis kecil muncul dari balik selimut. Ia menguap lepas lalu mengucek matanya. Ia mengambil alarmnya yg sedang semangat menjerit dan mematikannya. Lalu bergegas ke kamar mandi.
“Pagi adek!!” Ayah Devita menyapanya saat bertemu dimeja makan. Devita hanya tersenyum kecil, tidak sampai memperlihatkan gigi-gigi putihnya. “Hari ini ayah bikin pancake kesukaan Devita loh” sambil mencomot satu pancake dan menaruhnya diatas piring Devita. Ya, Devita.. gadis kecil yang masih duduk dikelas 1 SD ini hidup hanya bersama ayahnya. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Dia gadis kecil pendiam, jarang bisa mengekspresikan kemauan dan emosinya. Sifat datarnya itu yang seringkali membuat ayahnya kebingungan, Takut kalau yang ia lakukan tidak sesuai dengan kemauan Devita, anak semata wayangnya. Rindra, Lelaki mapan berusia 28 tahun. Siapa sangka ia adalah ayah Devita? Perawakannya serta wajahnya masih sangat muda. Kesendirian sepertinya tidak menghapus rona baby face-nya. “Sudah selesai makannya? Ayo adek ayah antar kesekolah ” Namun Devita menggeleng. “Apa mau diantar pak Bejo?” Devita pun mengangguk. Devita lebih suka naik becak pak Bejo saat berangkat dan pulang dari sekolah. Meski Rindra sudah seringkali menawarkan untuk mengantar dan menjemput Devita, Namun jawaban Devita selalu sama. Ia menggelengkan kepalanya. Rasa kecewa tersirat dari wajah Rindra, namun ia tidak menampakkannya didepan Devita.
Sesampai disekolah… Seperti biasa, Devita langsung masuk kelas dan menunggu pelajaran dimulai. Dering bel masuk pun berbunyi. “Hai Devita” Sapa Reny, Teman sebangkunya. Devita hanya tersenyum simpul. Datar, dingin dan diam. Begitulah Devita. Anak sekecil itu, namun benar-benar penuh misteri dengan kediamannya. Reny sudah biasa dengan sifat Devita, Ia tetap tersenyum ceria tanpa memprotes perlakuan Devita yang seperti itu. “Selamat pagi anak-anak” Bu Rika masuk kelas dan pelajaran pun dimulai.
***
“Pagi pak Rindra”sapa Mauline, sekretaris Rindra yang sebenarnya adalah sahabat almarhumah istrinya dulu. “Pagi juga Mauline” jawab Rindra. “Bagaimana jadwal saya hari ini? Sudah kamu bereskan?” tanyanya kemudian. “Sudah pak” jawab Mauline. Namun diluar pembicaraan tersebut, Ternyata Mauline sangat mengagumi Rindra. Dan seperti amanat almarhumah sahabatnya dulu, bahwa ia ingin Mauline menggantikan posisinya sebagai ibu Devita.Dan sepertinya, Rindra tahu soal amanat tersebut. Hanya saja saja, hatinya masih sangat mencintai Irenne dan belum siap untuk menggantikannya walaupun 6 tahun sudah berlalu sejak kepergiannya. Ia yakin sanggup untuk membesarkan Devita sendirian dengan segala upaya yang ia punya.
***
Dering bel pulang berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Devita masih sibuk membereskan buku-bukunya. Lalu bu Rika menghampirinya, “Devita, boleh ibu bicara sebentar?” Devita menghentikan kegiatannya sejenak dan mengangguk. “Ibu lihat Devita jarang berkumpul bersama teman-teman yang lain, Apa selama 4 bulan bersekolah disini Devita belum mempunyai teman satu pun?” Devita diam. “Devita juga jarang sekali terlihat berbicara dan bercanda seperti teman-teman yang lain. Cerita ke ibu nak, apa kamu ada masalah?” bu Rika sebisa mungkin mengajak Devita untuk mau sharing kepadanya. Namun nihil, Devita hanya diam dan tanpa ekspresi. “Hmm.. baiklah kalau Devita nggak mau cerita sama ibu. Tapi kalau ada apa-apa.. Devita langsung cerita ke ibu ya” Devita mengangguk dan bergegas meninggalkan kelas. Bu Rika hanya geleng-geleng kepala dengan berjuta rasa penasaran yang menghantui pikirannya.
Sesampai dirumah, Devita langsung bergegas kekamarnya. Ia menangis, Ya!! Dia benar-benar menangis sambil memeluk foto ibunya. Terlihat kerinduan yang sangat mendalam terpancar dari binar matanya. Mbok Nah membuka pintu kamarnya dan ia bergegas menghapus air matanya. “Ayo makan non” ajaknya. Devita mengangguk.
***
Rindra membuka pintu kamar buah hatinya. Nampak Devita tertidur pulas sambil memeluk foto almarhumah ibunya. Rindra mencium kening putrinya dan mengusap dahinya perlahan. Ia memandang foto almarhum istrinya “Irenne, anak kita begitu manis. Aku ingin sekali melihatnya tertawa lepas dan berlari memelukku. Aku ingin sekali ia memanggilku “Ayah”, aku rindu tangisannya saat masih bayi. Anak kita begitu pendiam Irenne, aku tak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Aku benar-benar rapuh tanpa kehadiranmu” Rindra pun menitikkan air mata. Terlihat jelas kekosongan dalam jiwa dan hatinya. Begitu hampa dan rapuh.
***
Keesokan harinya, Rindra bersikeras untuk mengantar Devita pergi ke sekolah. Dan ia bertemu dengan bu Rika, guru Devita. “Ini benar ayahnya Devita?” Tanya bu Rika seakan tak percaya akan sosok yang duduk didepan meja kerjanya. “Iya bu, Saya ayah Devita”. Lalu bu Rika pun menceritakan tentang kekhawatirannya terhadap sikap Devita selama di sekolah. Rindra pun semakin terbebani. Ia berencana untuk membawa Devita ke psikiater anak. Namun diluar dugaan, ….
***
Suara ambulance menderu memecah keheningan rumah sakit. Rindra terbaring lemah, ia tak sadarkan diri setelah kecelakaan maut menimpanya. Ia dinyatakan koma oleh dokter. “Irenne!!” teriak Rindra saat melihat Irenne mendekat ke arahnya. Ia memeluk istrinya tersebut, rasa haru bercampur bahagia terpancar jelas dari wajahnya. “Aku benar-benar merindukanmu”. “Kembalilah sayang” bisik Irenne lirih tepat ditelinganya. “Lihat anak kita, dia begitu membutuhkanmu” Lalu Irenne menghilang, menguap begitu saja seperti kabut. Seperti mimpi, namun nyata. Sosok Irenne benar-benar ada dihadapan Rindra. ……..
Rindra perlahan membuka matanya, Rasa sakit dikepalanya akibat benturan perlahan menghilang. Nampak Devita, menangis disebelahnya. “Devita nggak mau kehilangan AYAH !!” lalu memeluknya. “Ia memanggilku Ayah” gumamnya dalam hati. “Devita sayang sama Ayah” ucap Devita ditengah isaknya. Rindra tersenyum dan memeluk putri semata wayangya itu. Bibirnya masih kelu, rasa sakit disekujur tubuhnya sepertinya menguap setelah 4 hari koma.

No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN