Sunday, 17 June 2012

Jogja and The Unforgetable Moment



Malam ini lagu Shaggy Dog - Di Sayidan mengalun indah memenuhi ruangan. Menelusup relung-relung fikirku yang tengah bersandar menikmati malam. Tiba-tiba kenangan akan Jogja dan kamu menyembul dari balik tumpukan memori indahku. Ya, memori itu . . Rindu akan riuh dan ramainya jl. Malioboro. Kala itu  dia terus saja menggandeng tanganku sembari mencari jalan untuk kita lewat. Sementara aku masih sibuk menenteng kamera dan mengamati kuda-kuda penarik delman yang terengah-engah. Nafas mereka memburu, sementara pak kusir dengan bahagianya bertengger di atas kursi kemudi. Aku yang merindukan jl. Malioboro beserta bau berak dan kencing kudanya. Aku yang merindukan wajah-wajah lelah pedagang di sepanjang Malioboro. Aku yang merindukan teriakan para penjaja asongan. Taburan bintang menjadi saksi ketika dia menghampiri seorang pedagang aksesoris, memesan 2 buah gelang dan menyematkan nama kita. Ia memakai gelang yang bertuliskan namaku dengan senyum terkembang. Dan aku pun dengan senang hati menyematkan gelang yang bertuliskan namanya. Ia menggandeng tanganku, lagi . .

Dia yang terus menjagaku & mengawasi setiap langkahku. Hingga langkah kami terhenti di kerumunan seniman jalanan, orang-orang kreatif sedang uji kebolehan di depan sebuah ruko. Terdengar teriakan "Jogja istimewa, istimewa juga orangnya" . . Aku pun merekam moment itu. Uang 2 ribu yang aku beri rasanya belum cukup untuk pengamen-pengamen hebat itu, mereka seniman jalanan yang terkoordinir dengan baik.

Di monumen super semar, aku dengan semangat menyelip dari balik-balik pagar besi yang mengelilingi. Berharap bisa ikut duduk dan mengelilingi monumen. Malam minggu, malamnya anak-anak muda Jogja. Aku mendapati seorang bocah cilik, cantik nan energik. Matanya tak pernah lepas dari papan skateboard yang dimainkan para skaters. Berlari kesana kemari mencoba mencari sudut pandang yang pas, bocah cilik itu tertawa riang. Tak menghiraukan panggilan mamanya yang sudah dimabuk kesal.

Sorotan lampu malam dan pantulan jalan di Malioboro, semerbak bau jagung bakar menelusup hidung. Dan ketika aku menghela nafas untuk sejenak merasakan damai duduk disampingnya, sepasang pengamen datang dan menyanyikan sebuah lagu. Aku tak tau jelas apa judul lagu itu, sepertinya itu ciptaan mereka sendiri. Yang jelas, pengamen-pengamen Jogja bukanlah pengganggu. Mereka adalah seniman jalanan yang luar biasa.


Gemerlap malam dan geliat Malioboro mulai berkurang, aku & dia pun kembali menelusuri jalan kenangan itu. Mengumpulkan memori, berharap itu semua menjadi tumpukan kenangan yang indah.

Perut memanggil, dan aku memutuskan untuk mencicipi nasi goreng di sekitaran Sastrowijayan. Semeja dengan bule Belgia yang super ramah, hingga saking ramahnya . . Ketika dia akan meminjam sebuah pulpen dariku, aku kalap dan gelagapan. Untung pacarku cepat tanggap dan mengatasi rasa nervous ku. Menggelikan. Aku menikmati kejadian itu, menikmati segarnya teh manis yang berhasil mencumbu bibirku dan mengusir dahagaku, menikmati senyumnya yang tertahan oleh asap rokok, menikmati aroma peluh dan candanya.
seniman Jogja


Keindahan malam Jogja tidak sampai disitu. Ketika dia menggandeng tanganku dan mengajakku menelusuri jalan sepi di sekitaran pasar Beringharjo. Disepanjang jalan yang lebar dan sunyi itu, ketika kucing berlarian saling mengejar. Ketika sepasang pemuda pemudi sedang dimabuk candu cinta berkerumun di kegelapan. Dia tetap mendekap erat tanganku. Dan sampailah di gedung Societet (taman Budaya), dia ingin memperlihatkan isi dari gedung itu. Tapi sayang, jam berkunjung sudah habis.




Jogja tak pernah dingin. Selalu hangat seperti senyum orang-orangnya. Masih lekat dipikiran, bahasa jawa halus yang seringkali terlontar dari ibu-ibu penjual sate dan gudeg. Senyum mereka tak pernah surut menyapa tiap pandangan.

Jogja, kelak kami akan kembali. Aku dan dia akan mengunjungimu. Bernostalgia, melepas rindu akan eksotismu.



2 comments:

  1. hemm.. selalu penuh dengan keriangan seniman-seniman jalanan yang takkan bisa dilupakan betapa hangat dan riangnya jogja..

    ReplyDelete
  2. @Ragil Kurnianingsih: Yup, itu yang selalu bikin kangen :D

    ReplyDelete

GAK KOMEN = GAK KEREN