Sunday, 22 July 2012

Cantik itu Kamu!

"Arrrghh!! Damn .. He is so beautiful !!".Ini bukan salah satu adegan di sinetron lho, ini cuma teriakan hati kecilku ketika mendapati bahwa pacar saya yang jelas-jelas berjenis kelamin lelaki lebih cantik daripada saya. Dan pernyataan ini bukan muncul secara sepihak, tetapi parahnya; yang menilai bahwa dia cantik adalah ibu dan bude saya. Kala itu sore hari, saat saya sedang memindah foto-foto dari memory henpon ke notebook .. ibu tiba-tiba berceletuk renyah "Kui pacarmu to nduk? kok awakmu kalah ayu .. "(translate: "Itu pacarmu ya nak? kok kamu kalah cantik ..") dan seketika itu pula, Deg!! .. seperti sebuah sindiran halus, bahwa nyatanya saya kalah cantik dengan kekasih saya. Kalau pun saya laki-laki, pasti lebih gantengan saya .. itu jelas (congkak). Lalu, sindiran kedua datang dari bude saya. Waktu itu bude sedang bantu-bantu masak dirumah, beliau bersikukuh ingin lihat siapa sih pacar baru saya. Lalu saya pun menunjukkan foto kita berdua, bude justru menunjuk SAYA .. saya dianggap sebagai pacar saya tersebut dan pacar saya dianggap sebagai SAYA (nah loh bingung kan?!) dan terjadilah adu pendapat antara saya dan bude saya hingga pada akhirnya bude saya menarik kesimpulan bahwa saya adalah penyuka sesama jenis.

Saya pun geram dan terkesan tidak iklas atas apa yang terjadi kepada saya. Tapi memang iya, mata saya lebih suka ngelihat lelaki berwajah kalem, manis dan bermuka tirus daripada lelaki kekar bermuka lebar.. hahaha. Entah dari situ saya berpikir, mungkin keunikan itulah yang membuat saya tidak pernah bosan mengukir kisah dengannya (cieee..)

Dan jujur, saya punya hobi baru sekarang! hobi yang bisa membuat saya bahagia lahir batin, hobi yang bisa bikin saya cekikikan diatas penderitaan pacar saya. Hobi itu adalah belajar make-up dengan difasilitasi wajah pacar saya sendiri.. hahaha

salahe ayu :o


Love Act Like a Zombie

Siang yang cukup terik, aku memilih bersantai diteras rumah dengan ditemani secangkir kopi. Menikmati belaian sepoi angin, dan jari-jariku tak pernah berhenti menari diatas netbook mungil yang sedari tadi bertengger dipangkuan. Pandanganku menerawang, memikirkan tentang kita.
Hampir seminggu ini, kita mengalami fase yang sulit. Dimana ketika ada nila setitik saja, meledaklah bom amarah diantara kita. Entah aku yang dirundung egois, atau entah kamu yang sudah tidak memiliki stok kesabaran. Tapi yang jelas, kita sama-sama sensitif. Sama-sama diserang pressure, Aku yang mulai depresi karena deadline skripsi sudah diambang mata dan kamu yang terus-terusan mengalami pressing dari keadaan dan ketakutanmu akan kehilangan sosokku. Selisih paham dan perdebatan sering sekali menghampiri. Kalau saja otak ini bukan buatan gusti Allah yang maha agung, mungkin sudah meledak sedari dulu.

Cinta ternyata memiliki power sedahsyat ini untuk membuat aku galau?

Namun, sehebat-hebatnya pertengkaran .. pasti ada titik ujungnya. Damai. Mengalahkan ego, mematikan gengsi dan saling mengakui kesalahan. Berangkulan kembali dan sama-sama menggenggam erat satu sama lain. Seperti ikrar kita diawal, ketika aku dan kamu menjadi kita.
Cintamu kepadaku tak tertandingi, kekal dan terus saja maju. Like a zombie. Menerjang apapun yang menghadangmu. Mengacuhkan semua hinaan dan makian yang berlalu lalang menghampiri. Dan dari situlah aku yakin, bahwa mahluk semacam engkau, sangat tidak pantas aku sia-siakan.
SKRIPSI ! damn of you …




When I sleep, I Heard Your Voice

Last night, when I sleep .. I heard your voice, like a dream. You sat beside me, hold my hand and whispered some words. “Dinda, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. You’re my final destination. I love you now and forever”. Dan baru aku ingat, semalam tadi ia menjagaku. Meski hanya lewat sebuah telephone …