Monday, 13 August 2012

The Hidden Meaning of Apem

Pagi ini setelah makan sahur .. saya mendapatkan sebuah tugas dari sang ibunda ratu untuk membuat kue apem. Saya pun melaksanakan titah tersebut. Ada 3 jenis kue apem yang harus dibuat; yang pertama adalah kue apem yang digoreng, kedua adalah kue apem dibungkus daun pisang dan dikukus, lalu yang ketiga adalah kue apem yang dicetak dicetakan plastik dan dikukus. Proses yang paling membosankan dari ketiga jenis kue apem itu adalah kue apem goreng, karena apa? ... harus nunggu lama didepan kompor. Kalau terlalu cepat, kue tidak akan matang merata dan apabila terlalu lama .. bisa gosong sebelah. Sepertinya saya harus upgrade sabar.

Apem
Kue apem ini dibuat bukan tanpa maksut apa-apa. "Kue apem ini harus disertakan didalam kenduri" begitu ujar ibunda ratu. Disaat saya sudah mulai berkecimpung didepan penggorengan dan siap menggoreng adonan, saya mulai berfikir .. apa sebenarnya makna dari kue apem. Dan ternyata, ini adalah sebuah tradisi. Tradisi yang sudah berjalan lama dan tidak bisa dirubah ataupun dihilangkan. Kue apem ini tercipta juga karena ada penciptanya dan dibalik penciptaan tersebut ada maksut dan tujuannya.


Menurut sejarah, suatu hari di bulan safar, ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya kembali dari perjalanannya dari tanah suci. Ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tidak memadai. Maka bersama sang istri iapun mencoba membuat kue yang sejenis. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”. Makanan ini  kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai kue apem, yakni berasal dari saduran bahasa arab “affan” yang bermakna ampunan. Tujuannya adalah agar masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.



Kue apem ini akan naik daun di bulan Syaban menjelang Ramadhan. Dengan filosofi bahwa ketika akan memasuki bulan suci ramadhan, kita harus banyak-banyak memohon ampunan kepada Allah swt. agar ketika menjalani puasa .. kita sudah berada dalam keadaan suci dan bersih. Masuk akal atau tidak, tapi beginilah adanya.

Ketika tradisi berbenturan dengan agama. Mana yang menang dan mana yang kalah tidak akan pernah mencapai titik temu. Tergantung tiap individu bagaimana menyikapinya dari sudut pandang masing-masing.

No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN