Sunday, 12 August 2012

Yang Tak Bisa Diungkap

Sekitar setahun yang lalu, ada sebuah kisah annoying yang mungkin tak akan bisa saya ungkap selain dengan tulisan. Kala itu ada seorang cowok, sebut saja B .. dia seumuran dengan saya, dengan kelabilan agak over. Dia datang tiba-tiba kekehidupan saya yang mulanya bahagia dengan kesendirian. Dengan misi PDKT, dia mulai menjalankan aksinya. Mulai dari ngechat di ranah online, lalu lalang di facebook, sampai rela hujan-hujanan cuma buat ketemu. Saya awalnya juga nggak sempat mikir macam-macam, saya hanya menganggap ini adalah hubungan pertemanan yang wajar. Tapi lambat laun, si cowok B ini menegaskan tujuannya. Waktu itu sepulang dari ngopi, waktu dijalan ia berkata kepada saya bahwa ia ingin menjadi orang nomor satu dihati saya. Deg! dalam hati saya berpikir keras, ini cowok salah makan atau apa? baru juga kenal sebulan .. udah bilang ini itu. Tapi, dengan tidak mengurangi rasa hormat .. saya mengajukan syarat untuknya. Syarat dari saya adalah saya minta waktu PDKT minimal 3 bulan. Saya memang lihat keseriusan dia, mulai dari program diet yang ia jalani sampai ke memperbaharui penampilannya. Saya salut, tapi sama sekali tidak bisa menggeser posisi dia yang semula teman menjadi pacar di hati saya. Dia tetap saya anggap sebagai teman baik.

Dia sempat mengiyakan tawaran saya. Berjalanlah masa PDKT tersebut. Tapi selang beberapa hari, ada seorang cewek lain yang muncul dalam skenario, sebut saja cewek A. Saya dengar dari salah seorang teman saya, bahwa cewek A ini sangat menyukai si B. Nyaris kecanduan.

"Wah kamu punya rival sekarang!" ujar teman saya.
 "Ha? rival??" tanya saya masih nggak mengerti.
 "Iya, kan kamu lagi pedekate sama tu cowok (si B)" jawab teman saya kemudian.
 "Saya nggak pernah 'ngoyo' sama tu cowok. Let's it flow" saya pun berlalu.
 
 Saat itu kita lagi ngopi rame-rame. Tiba-tiba, saya tahu bahwa si cewek A dibuat menangis sama si B. Akhirnya saya nggak tahan, saya pun meminta penjelasan ada apa ini sebenarnya. Lalu dari mulut si B sendiri saya tahu bahwa si A memang suka dengannya. Dan si A juga tahu bahwa si B sekarang sedang dekat dengan saya. Saya pun serba salah. Saya kemudian menyendiri, berpikir bagaimana baiknya. Lalu saya pun memutuskan untuk menjauh dari si B, dengan alasan yang jelas bahwa si B lebih cocok sama si A, si B juga sepertinya memberi harapan si A 'lebih' (mungkin dibuat jaga-jaga sewaktu dia saya depak), dan kesimpulan dari semua itu adalah si B sama sekali tidak masuk ke dalam tipe saya .. dia memang cowok yang baik, tapi plin plan. Termasuk dalam urusan memilih pacar .. hahhaaha


Beberapa hari kemudian tersiar kabar heboh bahwa si B jadian sama si A. Saya memang tidak begitu kenal dengan si A dan saya tidak peduli. Tapi ternyata saya sadar, bahwa si A ini adalah cewek yang ditahun sebelumnya juga pernah menuduh saya .. bahwa saya suka dengan pacarnya (sebut saja si C), padahal perlu dia tahu; bahwa si C dulu itu adalah seorang pembual cinta bermulut besar. Karena dia membual bukan hanya ke saya saja, tapi juga dengan teman satu kost saya... ckckckkck. Jadi, pantas saja jika si A (sampai sekarang) tetap menganggap saya adalah rivalnya.

Semenjak saya menjauh dari kehidupan si B, hidup saya kembali normal. 
Namun beberapa minggu kemudian, waktu itu saya sedang chatting dengan teman saya, sebut dia sebagai si D. Ternyata si D ini dulu juga pernah digebet sama si B tapi nggak jadi dan si D ini sempat menjadi tempat curhat si B waktu si B pedekate dengan saya. Mungkin karena rasa penasaran, saya mencoba interview si D dan si D mau menceritakan semuanya karena dia memang teman baik saya...

Kesimpulannya adalah si A merasa menang dari saya karena dia bisa jadian dengan si B. Padahal andai dia tahu si B ini sudah saya buang jauh-jauh hari semenjak saya tahu bahwa si A pernah nangis-nangis gara-gara si B, Saya hanya kasihan dengan si A .. hanya karena cowok bisa sampai seperti itu. Mungkin yang harus dievaluasi ulang adalah sikap si B yang mencla-mencle bin plin plan ini. Saya nggak tahu gosip apa yang menyebar, karena saya tak pernah mau tahu .. Tapi yang jelas, inilah kebenarannya. Saya apatis dan akan terus begitu ...

No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN