Wednesday, 31 October 2012

Adena II



Lebih dari 15 tahun aku tak pernah melihat Galib sebahagia ini dan kunci kebahagiaannya adalah dia. Gadis berwajah innocent yang menggemaskan, aku yakin pasti semua orang ingin selalu memeluk dan melindungi gadis itu.

Aku iri?... cemburu lebih jelasnya. Aku yang selama ini selalu disisi Galib, tak pernah sekalipun ditempatkan ditempat spesial seperti dirinya. Aku hanya dianggap sebagai sahabat, padahal kami sudah bersama sejak masih sama-sama duduk di PAUD. Aku masih ingat jelas bagaimana marahnya Galib kepada Rangga (teman sekelas kami yang hiperaktif) karena telah menghancurkan boneka yang kubuat dengan susah payah dari lego. Mulai hari itu aku sangat menyukai Galib. Dia seperti magnet bagiku, selalu bisa menarik perhatianku dan mampu membuatku nyaman jika berada disampingnya.

Cita-cita terbesarku kala itu adalah menjadi istri Galib Pancakusuma. Masih lekat dalam ingatanku, waktu itu adalah sore hari. Aku berlari kerumah Galib dan menemui tante Amira (ibunda Galib) yang waktu itu sedang menyiram tanaman di halaman, lalu menyodorkan sebuah kertas berisikan tulisanku yang seperti cakar ayam kepada tante. Kertas itu bertuliskan bahwa aku ingin menjadi istri Galib kelak, yah mungkin semacam proposal.  Tante Amira tertawa kecil dan mengusap kepalaku sambil mengangguk. Aku berlari pulang dengan hati riang.

Aku benar-benar menyukai Galib, dia sudah terlalu lama menjadi canduku. Lalu kenapa baru sekarang aku sadar bahwa yang semestinya aku lakukan sejak dulu adalah mengutarakan perasaan ku ini. Kenapa baru sekarang aku menyadari kesalahan terbesarku ini? Saat dimana Galib sepertinya sudah tidak membutuhkanku lagi. Saat dimana posisiku semakin rapuh dengan kehadiran Adena disampingnya.

“San, kamu menangis? Kenapa?” sebuah suara menyeruak dari bangku belakang, aku kenal persis siapa pemilik suara itu. Galib, lelaki yang benar-benar membuatku jatuh cinta.

Aku menggeleng dan berlari menghambur ke toilet perempuan. Aku membasuh wajahku di wastafel, Aku menatap lekat pantulan wajah yang ada dicermin. Mata ku memang tak sebagus milik Adena, namun wajahku lebih tirus dan menyenangkan. Aku rasa, aku tidak terlalu jelek dan memalukan. Badanku bagus, seperti ujar teman-teman lelaki dikelas ku. Tapi pujian mereka tak akan berarti apa-apa jika Galib tidak sekalipun melihatku.

Aku benar-benar mencintai Galib, perasaan ini muncul seiring waktu. Dan semakin kuat ketika kami sama-sama beranjak dewasa. Tapi bodohnya, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mengutarakannya. Sampai kelas XII ini, aku memang selalu berada disisinya. Dan jujur, aku bahagia dengan rumor yang sempat beredar disekolah bahwa aku adalah kekasih Galib. Namun tetap saja, rumor itu tidak selamanya bisa membantuku untuk selalu bisa disisi Galib. Sekarang aku benar-benar menyesal.
                                                               ♡

“Sandra, boleh mama masuk nak??” suara mama dari balik pintu kamar membuatku beranjak bangun dari tempat tidur. Aku membukakan pintu untuknya. Mama terperanjat melihat penampilanku yang lusuh dengan rambut acak-acakan. Reflek tangan mama menyentuh dahiku.

            “Kamu demam nak? Sudah minum obat?” Tanya mama lagi dengan nada suara cemas. Aku mengangguk.
           
            “Udah ma, paracetamol. Mama tenang aja, bentar lagi juga turun kok demamnya” aku melihat gurat wajah cemas di wanita paruh baya ini. Mama adalah seorang single parent dan aku tidak begitu tertarik membahas keadaan keluargaku. Hanya Galib yang tahu bagaimana keadaan keluarga kecilku. Aku hidup bersama mama dan Arren, adik lelakiku yang masih kelas 1 SMP.

“Maaf ya, mama baru bisa pulang sekarang. Soalnya kantor nggak bisa ditinggal. Mama masakin bubur ya nak? Mau??” tawar mama, aku menggeleng. Aku sama sekali tidak bernafsu untuk makan.

“Aku mau tidur aja ma” aku kembali meringkuk di tempat tidur. Aku mendengar langkah mama pergi menjauh, keluar dari kamarku dan menutup pintu kamarku pelan.

Aku mengambil photo Galib dari balik bantalku. Aku mengamati lekat-lekat senyum ceria itu, gigi-gigi putihnya nampak rapi berjajar. Alis mata dan tatapannya yang tajam nampak kontras dengan wajahnya yang putih. Semua itu begitu memabukkanku.

“Kak, dicariin kak Galib tuh!” teriak Arren dari balik pintu kamar.

“Bilang kakak gak ada!” sahutku kemudian. Ah tapi terlambat, pintu kamarku dibuka dari luar. Aku buru-buru mengembalikan photo Galib ke balik bantal.

Dan nampak Galib, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya seperti biasa muncul dari balik pintu. Senyum yang selalu bisa membuatku rindu. Aku speechless, gugup dan salah tingkah. Sementara keadaanku sekarang ini benar-benar tak baik. Aku hanya mengenakan kaos oblong dan hotpants, rambutku acak-acakan. Aku seharian belum menyentuh sisir dan air. Spontan aku menarik selimutku dan bersembunyi. Tindakan yang terlalu konyol dan kekanak-kanakan memang.

Aku merasakan Galib duduk ditepian tempat tidurku. Aku masih bersikukuh tidak mau muncul dari balik selimut.

“San, kamu sakit? Udah 2 hari ini aku nggak lihat kamu di sekolah. Kelas rasanya sepi kalau kamu nggak ada” suara Galib memecah keheningan kamarku.

“Aku juga menemukan ini, aku rasa ini handbook mu yang tertinggal di bangku sekolah” sambungnya lagi.
  
Mati aku! Aku baru ingat bahwa handbook yang kemana-mana selalu aku bawa tertinggal di sekolah. Aku buru-buru membuka selimut dan merebut buku kecil putih, bergaris pink tersebut.

“Kamu baca isinya?” tanyaku memburu. Aku menatap Galib tak berkedip, mataku seperti mau melompat dari rongganya. Galib hanya tersenyum.

“Jawab Lib, jangan cuma senyum!” teriakku setengah membentaknya.

“Kenapa? Kamu marah? Aku sebenarnya tidak ingin membaca handbook yang berisi privasimu San, tapi apa boleh buat. Rasa penasaranku muncul saat aku mengambil buku itu dan ada sobekan photo yang terjatuh. Aku ingat itu adalah photo kita berdua waktu bermain ke museum akhir bulan lalu” Galib menghela nafas.

“Kenapa photo itu kamu robek jadi dua? Apa aku ada salah??” Tanya Galib. Aku diam, mulutku masih bungkam.

“Jadi kamu baca semuanya dan kamu tahu apa yang aku pendam selama ini?!” aku balik memburunya dengan berondongan pertanyaan. Nafasku tidak teratur.

Galib mengangguk, Dia menatapku tajam namun meneduhkan.

“Aku bahagia San kamu memiliki perasaan yang sama denganku” Aku terhenyak tak percaya. Galib memiliki perasaan yang sama denganku? Tapi kenapa ? Aku tertunduk dan sibuk dengan pemikiran ku sendiri.

“Waktu itu sore hari ketika aku selesai bermain basket, Rangga menghampiriku. Kamu tau Rangga kan? Waktu di PAUD aku sempat menonjok mukanya karena membuatmu menangis. Dia memohon kepadaku untuk membujukmu agar memaafkannya. Dia menyukaimu” Galib menarik nafas dalam-dalam.

Rangga, si bocah pembuat onar itu. Sampai sekarang pun aku masih membencinya. Dia menempati ranking nomer 1 di peringkat orang-orang yang aku benci. Dan parahnya, aku sempat 3 tahun 1 SMP dengannya.

“Rangga juga memintaku untuk menjaga adiknya, adiknya menderita jantung lemah, ia sakit-sakitan sejak kecil. Dia juga mengalami ombrophobia, dia bisa mengalami ketakutan parah jika ada hujan dan petir. Ketakutannya bisa memicu kerja jantungnya berlebihan dan kamu tau kan apa yang akan terjadi kemudian? Jantungnya akan berhenti bekerja. Gadis malang itu adalah Adena” Galib memandang jauh keluar jendela dan mengambil nafas yang berat.

Aku menangis sejadi-jadinya. Galib membenamkan kepalaku didalam pelukannya.

Keadaanku mulai membaik, aku mulai bangkit dan mulai menerima kenyataan. Akuakan mencoba turut tersenyum melihat Galib bahagia dengan Adena. Aku akan mencoba menempatkan posisiku sebagai sahabatnya, bukan sebagai seseorang yang selalu menjadi bayang-bayangnya.

“Sandra, kamu sudah siap nak? Berangkat yuk” kepala mama melongok dari pintu. Hari ini mama ingin aku menemaninya menemui rekan bisnisnya. Mama juga memintaku untuk berdandan rapi dan cantik. Aku memakai dress casual  warna biru cyan, menyematkan bando berpita putih kecil diantara rambutku dan menyelempangkan tas kecil berwarna senada dengan bandoku.  Dunia! Sambut aku .. aku tersenyum pada diriku sendiri yang terpantul dicermin.

Aku dan mama sampai disebuah restoran. Sesuai janji mama waktu merayuku tadi, ini adalah restoran seafood favoritku. Aku memasuki restoran tersebut dengan mengekor mama dibelakang. Kami duduk dimeja yang sudah reserved, mama sengaja memesan meja ini sebelumnya.  Sekitar sepuluh menit kami menunggu, akhirnya muncul dua orang mendekati meja kami. Dari kejauhan aku melihat seorang tante-tante yang tubuhnya lebih gemuk dari mama ku. Dibelakangnya mengekor seseorang cowok yang lamat-lamat aku tidak asing lagi, namun aku lupa siapa. Aku mengalihkan pandangan ke daftar menu yang dilayangkan waitress  kepada ku.

“Udah lama jeng nungguinnya?” sapa sebuah suara. Aku menaruh daftar menu di meja dan menengok kearah suara tersebut.

“RANGGA?!!!!” aku terperanjat dan langsung berdiri dari dudukku. Ternyata itu adalah Rangga dan mamanya, mama Rangga adalah rekan bisnis mama ku.





No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN