Tuesday, 30 October 2012

Adena



Character:
·         Galib Pancakusuma
·         Adena Odelia
·         Sandra Permata Putri



Aku memandangi gadis mungil itu dari kejauhan, di balkon lantai 2 depan kelasku. Kedua matanya adalah magnet bagiku, membuatku rela berlama-lama memandanginya. Kedua matanya lebar namun meneduhkan, bulu matanya lentik dan bola matanya coklat cerah. Dia gadis yang periang dan aku yakin bahwa teman-temannya pun akan sependapat denganku. Senyumnya selalu mengembang menghiasai wajahnya yang bulat lonjong seperti buah plum, pipinya merona jika terkena sinar mentari dan gigi-gigi putihnya menyeringai indah ketika dia tertawa. Entah sejak kapan aku mulai jatuh hati kepadanya, entah sejak kapan pula aku jadi kecanduan memandanginya. Sementara kami ini tidak saling kenal meskipun berada di satu sekolah yang sama. Dia adalah adik kelasku, Adena Odelia.

“Lib, ngapain bengong?” Tanya Sandra cukup mengagetkanku.

Sandra adalah temanku sejak kecil, rumah kami bersebelahan. Hubungan kami memang dekat, tapi aku lebih menganggapnya sebagai hubungan kakak adik. Bukan hubungan sepasang kekasih seperti yang sedang santer terdengar di lingkungan sekolah saat ini. Gosip yang beredar ini muncul ketika waktu itu Sandra pingsan di upacara bendera dan karena aku baris disebelahnya, maka akulah yang menggendongnya sampai di ruang UKS. Dan sejak itu pula, rumor tentang kami semakin berkibar.

            “Nggak ngapa-ngapain San, kenapa? Ada yang bisa aku bantu?”  tanyaku kemudian tanpa melepas pandangan dari gadis mungil yang sedang bercengkerama dengan teman-temannya itu. Sandra menggeleng dan menelusur pandanganku. Sekilas ekspresi di wajah Sandra berubah, ada yang aneh. Tapi aku tak tahu itu.

            Bel pulang sekolah berdering nyaring, merongrong-rong mengisi lorong-lorong kelas. Semua siswa menghambur keluar, tapi tidak denganku. Aku mengikuti kebiasaan Adena yang selalu pulang ketika sekolah telah sepi. Dia selalu berlama-lama di kebun bunganya, disamping kantin sekolah. Aku sempat membaca tulisan Adena di blog pribadinya, dia sangat menyukai bunga dan selalu menemukan dunianya sendiri ketika berada diantara bunga-bunga tersebut. Adena adalah seorang blogger, dia hobi menuangkan segala yang dialaminya di blog; seperti ketika dia harus kehilangan kucing kesayangannya, ketika neneknya berpulang dan ketika orang tuanya kecewa saat dia tidak mendapat peringkat 1 pada saat ujian kenaikan kelas. Ah sepertinya aku telah terlalu jauh mengorek informasi tentang gadis jelita ini. Apa mungkin penyakit seorang secret of admirer sudah mulai menyerangku? Atau mungkin aku lebih bagus disebut sebagai stalker saja.

            Aku beranjak dari kursiku dan mulai menyusuri lorong sekolah yang mulai senyap. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, aku menengok langit. Terlihat mendung menggelayut, Nampak awan commulus nimbus sudah berarak dan siap mengucurkan air secara besar-besaran.  Aku menapaki anak tangga, bermaksud ke kantin sembari mencari sosok Adena.  Sebelum mencapai kantin, aku harus melewati lapangan basket dan deretan  ruang kelas XI.

Tak lama kemudian, saat aku masih di lapangan basket rintik hujan mulai turun, tetes demi tetes dan semakin deras. Kilat menyambar disertai gemuruh, datang begitu cepat dan tiba-tiba. Deg! Seketika itu juga aku ingat akan Adena dan phobia-nya, dia adalah penderita ombrophobia. Merupakan seseorang yang memiliki kekhawatiran irasional terhadap mendung, hujan dan petir. Aku berlari secepat yang aku mampu menuju taman bunga. Aku tak menghiraukan hujan yang menyerangku, yang ada dipikiranku hanya Adena dan Adena.

Dan benar saja, aku mendapati Adena jongkok di pojokan kantin yang telah sepi. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangannya dan terisak. Spontan aku mendekatinya dan meraih badan mungilnya, ia tidak memberontak. Aku benamkan wajah buah plum-nya kepelukanku dan mengusap kepalanya, mencoba memberikan ketenangan dan perlindungan semampu yang aku bisa. Aku bisa merasakan detak jantung dan nafasnya yang memburu, aku bisa merasakan isak tangisnya dipelukanku.

Petir masih saja terus menyambar dan itu membuat Adena semakin menggigil ketakutan, ia semakin tertunduk di pelukanku sambil berusaha menutupi telinga dengan kedua tangan mungilnya. Ia menyembunyikan wajahnya dari kilatan petir dan masih tetap terisak.  Aku melepas ransel dari punggungku dan menaruhnya di meja kantin, tanganku merangsek ke dalamnya untuk mengambil earphone dan handphone-ku. Aku membuka aplikasi mp3; aku rasa lagu milik David Cook yang always be my baby bisa menenangkan Adena. Aku memasangkan earphone itu ketelinganya.

 Lumayan berhasil, Tak lama kemudian hujan mereda. Nafas Adena mulai teratur. Aku mengajaknya duduk di kursi kantin, tapi ia masih memegang erat kemejaku. Aku melepas earphone sebelah kanannya dan membisikkan sesuatu:

“Adena, hujan sudah mulai reda. Jangan takut, ada aku disini”

Ia menengadahkan wajahnya dan menatapku. Mata bulatnya sembab dan memerah. Ekspresi yang belum pernah aku lihat selama ini. Bibirnya masih menggigil, ia melepas earphone dan mulai mengatur nafas.

“Kak Galib kenapa bisa tau aku ada disini?” Tanya Adena masih setengah sesenggukan.

Dia tau namaku? Sejauh ini yang aku tau bahwa kami tidak pernah saling mengenal. Tatapan kami hanya bertemu saat kebetulan aku melewati kelasnya saat pulang sekolah atau ketika selesai bermain basket dan aku mampir ke kantin. Aku memiliki feeling bahwa sekarang adalah saat yang tepat  jika aku mengungkapkan segalanya kepada Adena.

“Jujur aku telah menjadi stalker mu selama 3 sebulan terakhir, aku suka mengamatimu ketika kamu berada ditengah taman bungamu ini, ketika kamu berbicara dengan aroma rumput dan desir angin yang membelai rambutmu. Dan sepertinya senyummu telah menjadi alergenku yang nyata”

Adena terdiam. Kata-kata seperti itu meluncur begitu saja dari mulutku, ini semua tak terduga dan diluar kendaliku. Perasaanku yang mengontrol semuanya. Tapi aku rasa ini benar-benar cinta, bukan kekaguman semata. Tiba-tiba saja Adena memelukku dengan erat, melingkarkan tangannya di pundakku. Ia kembali terisak, aku tidak mengerti.

“Terimakasih Tuhan sudah menjawab do’a Adena selama ini” begitu ucap Adena ditengah isak tangisnya.

JJJ

Ini semua seperti mimpi bagiku. Adena, ya! Gadis jelita itu telah menjadi orang terkasih dihidupku. Dan rumor ini begitu cepat menyebar ke seantero sekolah. Kakak kelas jadian dengan adik kelas.

“Lib, kamu beneran jadian sama anak kelas XI itu??” Tanya Sandra nanar. Aku mengangguk penuh senyum kebahagiaan. Aku menangkap ada sebersit kecewa di wajah Sandra, tapi aku tidak ambil pusing akan hal itu.

“Lalu bagaimana denganku Lib?” Tanya Sandra lagi. Aku masih tidak paham dengan maksud Sandra.

“Kenapa San? Kamu takut aku melupakanmu atau apa?” pertanyaanku disambut dengan anggukan kepala oleh Sandra. Aku tertawa kecil.

“Sandra, aku tetap sahabatmu. Sampai kapanpun aku selalu ada buatmu, selama aku mampu dan masih sanggup”


JJJ

Hari ini aku berjanji mengantar Adena ke toko buku. Adena memang memiliki kecintaan tersendiri kepada buku-buku sastra. Aku semakin dibuat kagum oleh gadis ini, dia adalah pecinta yang baik meski aku baru seminggu jalan dengannya. Dia tidak pernah melewatkan hal-hal kecil, seperti mengajakku makan siang dengan bekal yang ia buat, mengajakku memanen bunga, mengucapkan selamat tidur setiap malam dan menyambutku dengan senyum ketika kami saling bersua. Seperti saat ini, ketika aku menjemputnya di ujung gang menggunakan sekuter matik-ku dia tak pernah berhenti tersenyum kepadaku. Adena nampak cantik kala itu, ia menggunakan skirt pink soft, atasnya dibalut dengan cardigan berwarna senada dan sebuah sifon scarf. Rambutnya yang lurus terurai bebas dan mengkilat terkena terpaan matahari.

“Sudah lama? Maaf ya telat” ucapku kemudian tanpa turun dari skuterku.

“Belum kok kak, aku memang sengaja berada disini 10 menit lebih awal biar kakak nggak nungguin lama” jawab Adena polos.

Aku menyodorkan helm untuknya dan ia tanpa aku perintah, segera naik ke skuterku. Diam-diam ternyata Adena selama ini juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dia sering mengamatiku bermain basket lewat taman bunganya. Tapi dia tetap saja gadis yang tertutup, sampai-sampai aku yang setiap hari mengamatinya saja tidak menangkap sinyal tersebut. Ada satu hikmah dari semua ini : when you love someone, just be brave to say that you want her to be with you.


SELESAI

2 comments:

GAK KOMEN = GAK KEREN