Wednesday, 7 November 2012

Adena III



Bisikkan lembut angin dan aroma rumput menemani senjaku, aku merindukan kehadiran Adena dan aroma tubuhnya. Dia yang selama setahun ini mengisi hatiku, dia yang selama setahun ini membawa kebahagiaan untukku dan dia yang sekarang telah berada di pelukan-Mu…

♡♡♡

            Pagi ini terasa hambar, sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Tapi aku harus beranjak dari tidurku dan memulai hari kembali. Sebuah text message melayang ke handphone ku. Tertera nama Sandra di layar.

“Udah bangun? Ayo jogging di taman..”

     Aku menatap keluar jendela, nampak Sandra berdiri disana. Melambaikan tangan kearahku, 
matanya berbinar dan dia penuh semangat. Aku memberi isyarat ‘tidak’ kepadanya. Nampak gurat kecewa diwajahnya. Lalu dia mengambil handphone dan mengetikkan sesuatu. Tak lama kemudian handphone ku berbunyi.
“Hari ini kan ulang tahunku L
            Astaga, aku melupakan ulang tahun sahabatku. Aku terlalu larut mencoba membangun duniaku semenjak kepergian Adena. Aku lalu berlari ke kamar mandi dan berganti pakaian. Sandra masih berdiri didepan pagar rumahku. Aku bergegas menemuinya.

            “Ya ampun Lib, mata kamu udah kayak panda atau justru lebih mirip sama mata kuntilanak yang abis kesiram cabe, muka kusut, rambut acak-acakan” Sandra menatap wajahku dekat. Aku sebulan ini memang selalu tidur larut. Entah sejak kapan aku mulai akrab dengan insomnia, kopi dan rokok. Aku hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Sandra yang masih terbelalak.

“Ayok, katanya mau jogging.. keburu siang nanti” ajakku kemudian. Lalu kita berdua mulai berlari-lari kecil. Kami menuju taman kota yang letaknya kebetulan tidak jauh dari rumah kami. Ketika sampai, aku mendapati banyak orang-orang yang memang sedang berolahraga pagi.

“Kuliahmu masuk kapan?” Tanya Sandra kemudian.

“Besok” jawabku singkat.

“Istirahat disitu yuk, mumpung belum ada orang yang duduk” Sandra menunjuk salah satu kursi taman yang dinaungi pohon akasia besar. Aku lalu mengekor dibelakangnya.

“Oh iya San, selamat ulang tahun” ucapku kemudian memecah hening.

“Udah gitu doang? Kadonya mana coba?” Sandra cemberut. Wajah merajuknya memang selalu membuatku tak berdaya. Dia mungkin diberkahi semacam wajah yang bisa membuat semua orang luluh. Dan aku tak kuasa menghadapi wajah Sandra, aku menunduk. Aku sama sekali lupa bahwa hari ini adalah hari spesial Sandra. Aku belum menyiapkan apa-apa untuknya.

“Boleh aku pulang sekarang?” aku menatap Sandra.

“Kenapa buru-buru?” tanyanya kemudian.

“Aku ingin menyiapkan kado untukmu” jawabku pelan. Tawa Sandra pecah dan menghiasi suasana sejuk pagi itu.

“Lib, aku bercanda kali. Tapi aku memang punya wishes yang ingin kamu kabulkan” aku ganti memandang wajah Sandra yang duduk disampingku. Aku mengerutkan dahi, mencoba menebak.

“Aku hanya ingin kamu menjadi Galib yang seperti dulu. Kuat dan selalu peduli. Kamu terlalu lama menarik diri dari lingkungan sosialmu Lib, kami merindukanmu.” Sandra menghela nafas panjang tanpa menatap wajahku.

Memang aku telah menjadi seorang anti sosial sebulan terakhir ini. Tepatnya setelah Adena pergi, aku sekarang memandang dunia serba abu-abu, tak ada lagi pelangi, tak ada lagi warna, semuanya serba memudar. Lagi-lagi aku mengingatnya, gadis mungil yang selalu aku rindukan. Mungkin aku bodoh karena terlaru larut dalam duka dan tidak menghiraukan orang-orang yang menyayangiku.

“Dan satu lagi Lib, kamu harus tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Seburuk apapun keadaanmu, aku selalu ada untuk menarik kebahagiaanmu kembali. Aku juga masih berharap, cinta untukku masih tersisa. Jika sekarang kamu memintaku untuk memutuskan Rangga, aku bisa melakukannya sekarang juga” lanjut Sandra. Aku menatap wajah Sandra, ia memandang jauh kedepan.

Aku memang pernah mencintai Sandra, jauh sebelum Rangga membawa Adena ke kehidupanku. Aku selalu berusaha melindunginya, Sandra adalah prioritas bagiku. Kami seperti jarum dan benang, dimana ada Sandra disitu ada aku. Namun untuk sekarang, dihati ini sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa. Semua telah pergi bersama Adena, yang tersisa disini hanya hampa. Aku juga tidak akan sejahat itu, Rangga telah menjadi teman baikku semenjak aku menerima permintaannya. Dia sudah seperti saudaraku sendiri dan aku benar-benar ikhlas jika Sandra memang berjodoh dengan Rangga, sama seperti harapan mama Sandra.

Sore itu, ketika aku bersantai diteras rumah. Mama Sandra datang kerumah dan menemuiku.

“Galib, tante ingin ngomong sesuatu sama kamu. Tante senang sekali kamu sudah mau melindungi dan menjadi teman baik Sandra selama ini, tante juga berterima kasih kepadamu karena sudah menjadi bagian dari hidup Sandra. Tante tahu Sandra benar-benar menyukaimu, tapi tante punya kehendak lain. Tante tau tante egois, tapi maaf Lib.. mengertilah kondisi keluarga tante. Tante harap dengan perjodohan ini, bisa membantu keluarga tante”

Hari itu juga, untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk mundur dari kehidupan Sandra dan membatasi perasaanku. Aku rasa akan sulit menemukan gadis baik seperti Sandra, namun ternyata takdir berkata lain. Adena datang dan memberikan warna baru dihidupku.

Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mulai bicara..

“Sandra, aku mengerti perasaanmu. Menjadi Siti Nurbaya di era modern seperti ini memang konyol. Tapi kamu juga harus memikirkan yang terbaik, keluargamu adalah yang sekarang harus kamu prioritaskan. Dan aku yakin Rangga bukanlah orang yang buruk, justru dialah yang paling pantas menggantikan posisiku” aku menatap wajah Sandra yang sudah mulai berkaca-kaca.

“Semua ini serba kebetulan, Rangga membawakan Adena untukku dan kamu berjodoh dengan Rangga” aku terdiam sebentar, setiap kali aku menyebut nama Adena. Hatiku sakit dan menangis. Aku benar-benar merindukannya.

“Jadi kamu tau tentang perjodohanku sudah lama?” suara Sandra parau, tangisnya mulai membuncah. Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak memperjuangkan perasaanmu Lib? kenapa kamu membiarkanku pergi? Kenapa Lib?” Sandra histeris. Aku memeluknya, pelukan yang selalu aku berikan untuknya ketika dia menangis dan rapuh.

Aku terdiam, aku tidak bisa menjawab dan menyalahkan keadaan. Skenario ini sudah ada yang merancangnya dan sebagai umat, apalagi yang bisa dilakukan kecuali menjalaninya.

“Jawab Lib, kenapa?!” suara Sandra parau dan tertelan pelukanku. Dia sesenggukan, aku tak kuasa dan mencium keningnya. Adegan ini adalah adegan yang seharusnya tidak kami lakukan di taman.
♡♡♡
Kampus masih sepi, aku menyendiri seperti biasanya di taman. Aku merebahkan badanku di rumput dan mendengarkan alunan angin. Langit cerah, hujan sudah lama tidak turun. Andai Adena masih ada, pasti akan bahagia.

“Lib!” aku mendengar sebuah suara memanggilku, nampak Rangga melemparkan senyum kearahku.

“Hei” aku tersenyum pada Rangga

“Nih” Rangga menyodorkan sebuah undangan berwarna pink gold.  Undangan pertunangannya dengan Sandra.

SELESAI








No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN