Tuesday, 13 November 2012

Endless Story

Ini seperti sebuah perjalanan panjang. Segala sesuatunya tak pernah mendapati ujung. Ketika aku terseok, tertatih dan terjatuh, tak ada seorangpun yang peduli dan pada nyatanya aku memang tidak pernah mengharap kepedulian orang lain terhadap diriku. Aku terbiasa mengobati luka yang menganga ini sendirian, aku terbiasa menutup pedih ini sendirian dan aku telah dilatih untuk bangkit dari keterpurukan sendirian. Andai aku bisa, aku hanya ingin menikahi diriku sendiri. Berdiri diatas kaki lemah ini, mengarungi hidup dan segala macam suasana yang terkandung didalamnya.

Namun, Tuhan tahu segala keadaanku. Dia tidak pernah benar-benar meninggalkanku sendirian tapi justru aku yang berlari menjauh meninggalkan-Nya.

Ketika itu, aku pikir dia malaikat. Dia selalu bisa mencerahkan hari-hariku yang semula kelabu. Selalu bisa membawa senyumku kembali. Aku mulai menjauh dari kata-kata buruk yang mengisyaratkan kepedihan. Aku mulai memiliki sandaran, aku sandarkan semua derita yang pernah aku kecap di pundaknya. Aku mulai mengalami ketergantungan kepada kehidupannya. Namun ketika aku benar-benar percaya, dia berubah.

Dan Tuhan tidak begitu saja membiarkan ku sendirian, dia mengirimkan orang lain lagi. Orang itu pergi lagi dan ganti lagi dengan orang lain,ketika orang lain itu lenyap muncullah orang baru lagi .. begitu seterusnya.

Entahlah, siapa yang akan bertahan disisiku untuk yang terakhir kalinya. Dia adalah orang yang mampu mengorbankan kebahagiaannya diatas bahagia ku. Siapa? andai aku boleh mengintip catatan Tuhan.


No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN