Friday, 30 November 2012

Kawin Lari Aja Gimana?

"Mak aku pengen nikah!" 
"Sama si itu?"
"Iya!"
"Emang dia udah sarjana?"
"..."

Nyesek banget gak sih kalau ngebayangin kalian di posisi ini. Udah sama-sama cinta mati dan udah yakin siap ke pelaminan, tapi kesendat sama berbagai macam hal yang konyol dan gak manusiawi. Jujur, saya lagi ngalamin ini. Dan satu-satunya tempat pelampian ya cuma disini *peluk*

Ini seperti pelestarian matrealism, ketika ♡ tak lagi diukur dari ketulusan melainkan status sosial. Ada ijasah, baru ada restu. Kalau alasan yang ini saya mungkin bisa terima, karena tujuannya biar kelak lelaki saya mampu bertanggung jawab atas keluarga yang ia bangun. Kalau masalah yang ini, jalan keluarnya cuma satu, yaitu; menunggu bergulirnya waktu.

Lalu rintangan lain yaitu arah rumah kami yang 'ngalor ngulon', menurut tradisi jawa hal ini tidak boleh terjadi. Karena jika pernikahan terjadi, maka salah satu keluarga dari mempelai akan mendapat bala atau musibah. Jalan keluarnya adalah dengan istilah 'nemu', jadi pihak cowok akan 'ditemu' oleh pihak cewek. Dan dari keluarga cowok tidak boleh mengadakan hajatan. Ribet kan? bingung kan? sama!.

Lalu alasan yang ketiga adalah jumlah neptu yang sedikit. Neptu adalah hari lahir dalam pasaran jawa, setiap neptu memiliki jumlah sendiri dan untuk menghitungnya perlu mengetahui jumlah hari dan pasarannya lalu ditambahkan. Jika neptu sedikit, maka sulit untuk mencari rejeki. Jalan keluarnya, cowok dan cewek harus sama-sama kerja keras untuk mengais rejeki.

Inilah yang menjadi masalah selama ini, masalah yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak bisa dinalar dan dilogika-kan. MITOS. Lalu kenapa masih mempercayai mitos kalau sebenarnya mempunyai Tuhan? kenapa tidak berserah diri saja kepada yang membuat hidup?.. bukankah percaya terhadap sesuatu seperti itu bisa dikatakan sebagai syirik? ...

Entahlah, saya menyerah jika harus berurusan dengan tradisi. Soal mau dibawa kemana hubungan ini, jika bisa sampai di pelaminan, syukur alhamdulillah. Jika tidak, berarti kita tak jodoh.



No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN