Sunday, 2 December 2012

Horizonian


” Sekeping koin akan sangat bermakna bagi mereka penganut ajaran pengemisisme, pengamenisme, dan jalananisme yang lain.”

Sebuah cerita dalam imajinasi sekunder saya. Dimana hanya saya yang mampu menentukan segalanya seperti kebebasan hidup ini.

***
Adalah seorang jelita yang kutemui dalam penjara (kost) setelah aku membuat janji membesuknya. Aku pergi kesana dengan cara masuk kemudian duduk di dalam kereta (bukan MENAIKI) untuk berangkat menemuinya. Kesan pertama yang muncul saat melihatnya ialah,

” Damn!!!she’s so beautiful…”

Tapi aku harus menjual mahal diriku pada kehidupannya.

“Tenang Lo keren bro!!!”

Bukan karena aku apatis ataupun skeptis, hanya saja aku berpikir ulang untuk menyadarkan dan mempersiapkan diri saat sewaktu - waktu ia menendangku pergi.

Sore itu (bukan sih, lebih tepatnya malam), aku hadir di hadapan gelas kaca miliknya. Kaca itu berbingkai dan menunjukkan kesan “Sarti Dorc“nya See We Gakskin (pikiran itu pertama kali muncul saat menatap muka angkernya). Ia memakai jubah hijau milik Salazar Slytherin  berambut sedikit nDora (atau mungkin Super Saiya), dan berdiri di depan pagar jeruji dengan mata nanar seolah aku adalah lawan gulatnya.

Tiba - tiba, seketika itu, dan langsung saja tanpa “behbehbeh” ia langsung mencengkeram leherku yang imut, menarik lenganku yang putih mulus dengan sebat dan penuh tenaga dalam. Lenganku serasa akan putus dan leherku remuk bak ditimpa gajah. Aku ditarik dan dilemparnya di bangku penyiksaan.

“Tungguen sini bentar ya?!”

Hmmm…kata - kata manis yang pernah kudengar selain ibuku saat aku balita (bayi lima tangan).

Hanya dapat mematung membisu melihat korban - korban lain yang berceceran di lantai (anak lain yang pada ngapel).
Aku diam…terus berdiam diri membeku menanti siksa apa yang ada di hadapanku nantinya.
Tak lama ia kembali membawa sebotol air berwarna gelap (biasa disebut cola), dan seketika itu pula aku berkata pada diriku sendiri,

“Matiiih… . Aku diracun, tamat sudah riwayatku?!!”

“Tidak, tidak mungkin dia meracuniku. Ini bukan racun!!!”

“Pasti… Jelas… Ini adalah racun, atau mungkin obat tidur. Saat aku terlelap, aku pasti akan ditendangnya.”

Konflik antara sIrak dan pasukan dari negara sok tau (LhAmerika) dengan sebutan “Desert Storm”nya berkecamuk di kepalaku. Baku tembak terjadi, tank - tank di sejajarkan, begitu juga meriam - meriam itu mem-bom kesana kemari tanpa peduli penduduk sekitar. Sedang para jendral sibuk dengan rencana perang mereka agar memenangkan pertempuran itu. (Hehe, maap malah jadi keluar jalur)

***
Dia yang mengenakan jubah Salazar Slytherin tidaklah seburuk seperti ceritaku diatas. Ia sangat mempesona sejak aku menatapnya untuk pertama kali.
Baiklah aku ceritakan yang sesungguhnya tentangnya.

Dia berambut hitam lurus, berkacamata minus 1,5 kiri kanan, sedikit mengalami penggajahan, bibir yang tipis menggoda, dan dia tinggi. Yah perfect sekali bagiku.

Entahlah kriteria wanita cantik itu seperti apa, tapi bagiku dia sangat cuuaantik. Walaupun pada akhirnya orang lain berkata jika dia tak secantik seperti yang aku tuliskan ini. Maka saat itu tiba, aku akan bertanya pada mereka :

” bla…bla …bla… “(Rahasia)

Dialah yang kembali membangkitkan gairah hidupku setelah dihempaskan bertubi - tubi oleh pahitnya kehidupan. Menyemangatiku dalam sesaknya himpitan keadaan yang membelenggu. Dia yang menutup semua kekuranganku. Dia dan dia seorang.

Entahlah, aku juga tidak begitu paham apa yang ada difikiranku sehingga aku “Theist” padanya.
Yah, pada dasarnya di dalam diri manusia terdapat ruh Tuhan, jadi tidak salah jika aku “Theist” padanya. Tuhan adalah ruh tertinggi, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan, itulah Hyang Widhi. Hyang Widhi ada dimana - mana, tidak di langit, di bumi, lor, kidul, etan, kulon. Manusia tidak akan menemukan biarpun berkeliling dunia. Ruh Hyang Widhi ada dalam diri manusia. Jika manusia mati jasadnya akan hancur tetapi ruh akan kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas penderitaan.

Loh, kenapa ngomongin ma’rifat???
Heuuuuwww… . . Sudahlah!!!
Saya semakin membego dengan semua cinta saya padanya. Yang pasti dia yang ada saat kalian tak ada, dia yang selalu ada menempati hatiku seperti Tuhanku & Tuhanmu. Dialah “Theist”ku.
Bukan saya membenci hidup ini, namun aku tersesakkan oleh semua aturan - aturan yang diciptakan oleh kalian. Aku muak dengan pandangan skeptis kalian (ceritanya mencela nich).
Tapi begitulah adanya karena sesungguhnya yang saya inginkan hanyalah Simple, se-Simple kehidupan ini. Saya tidak pernah membuatnya rumit, hanya saja aturan - aturan itu yang mengurung kebebasanku. Selama kehidupan bebasku tidak mencoreng nama kalian maka tak perlu kalian berceloteh ria.

Dan hanya dia dan ibuku yang berhak berceloteh tentang hidupku.
(Dedicated for my beloved woman, Suchi Rohmasari.)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Diatas itu adalah tulisan cowok yang agak sinting. Tulisan yang membuat saya terbahak dan tersentuh. Sosok yang 8 bulan ini telah mengisi dan melukis berbagai macam warna di kanvas hati saya. Terimakasih.

Us 


No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN