Tuesday, 22 January 2013

Dear Kamu,


Dear Kamu,

Mulai hari minggu kemarin tidurku tak lagi nyenyak. Aku selalu terjaga hingga larut, bahkan pagi.Mataku enggan terpejam, pikiranku selalu mereka-reka sebuah bayang, yaitu kamu. Dan anehnya, ketika bayangmu terbentuk dengan sempurna dipikiranku, tetes demi tetes bulir air mataku berjatuhan. Aku sama sekali tidak mengerti, perasaan kehilangan macam apa ini, sedangkan kita putus kontak baru beberapa jam yang lalu. Seperti ada lubang dihatiku, semakin hari semakin membesar seiring kediaman kita.

Kamu berjanji Jum’at akan kembali, tapi rasanya hari yang kamu tentukan itu sangat jauh dari jangkau ku. Seperti berada diujung dunia dimana aku tidak memiliki apapun untuk meraihnya. Ya, aku sadar sayang bahwa rindu yang aku miliki ini mulai menyiksaku. Aku juga sadar bahwa kamu selama ini telah menjadi candu sekaligus obat untukku. Aku membutuhkanmu melebihi seorang penyair akan penanya. Kamu telah menancapkan makna yang luar biasa disini, diruang hati ini. 
Ruang hati yang dulu gersang dan rapuh, hingga kamu datang membawa berjuta warna dan memberikan keceriaan disetiap sudutnya.

Dear Kamu,

Aku paling benci jika malam datang, disitulah saat-saat dimana aku sangat membutuhkanmu. Membantuku memerangi rasa sepi yang menggelayut dihariku. Tapi untuk malam-malam belakangan ini, kamu tidak ada. Aku ditemani foto-fotomu dan semua yang bisa mengingatkanku padamu. Aku sadar itu semua tak cukup, aku butuh sapaanmu. Aku butuh kata-katamu yang mampu menguatkan aku. Aku butuh sosokmu!

Saat pagi datang, aku berharap untuk bisa jatuh tertidur lagi dan melalui hari-hari dengan berada di alam mimpi bersamamu. Namun, mataku berontak dan memintaku untuk menengadah ke mentari. Aku semakin terkoyak saat mendapati bahwa hari yang kamu janjikan masih lama.

Dear Kamu,

Rindu ini sebenarnya anugerah atau musibah? Kenapa begitu sakit? Kenapa begitu kehilangan? … Jika nanti aku sudah bisa memelukmu kembali, aku tidak akan pernah mau merasakan kesakitan yang seperti ini lagi. Aku tidak ingin sekalipun untuk tidak mendengar kabarmu barang seharipun. Kejauhan ini menyiksaku, sangat-sangat menyiksaku.

Dan ketika malam menyapaku kembali, aku berusaha untuk bisa cepat terlelap dan berharap hari segera berlalu. Entah seberapa sering aku mengeja namamu ketika akan tidur, entah seberapa sering aku mengingat aroma tubuhmu saat mataku terpejam, dan entah seberapa lama aku terperangkap dalam imajinasiku sendiri. Aku hanya ingin kamu, itu saja. Apa permintaanku terlalu berlebihan?

Dear Kamu,

Jika perpisahan yang hanya sementara ini begitu menyiksaku, bagaimana nanti jika perpisahan yang kekal menghampiri kita? Apa aku akan sanggup? … Bukankah lebih baik aku meminta kepada Tuhan, untuk memanggilku terlebih dahulu daripada kamu? Aku tidak ingin merasakan rasa kehilangan yang lebih berat dari ini. Kamu tahu aku mencintaimu dan akan selalu begitu.

Sayang, aku tidak ingin membebanimu dengan tulisanku ini. Aku hanya ingin berceloteh tentang apa yang aku rasakan sebenarnya. Dan aku benar-benar lemah karena ini.





No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN