Thursday, 19 December 2013

Fade Away

Tuhan, aku sama sekali tidak pernah memintanya. Aku tidak pernah mengenalnya dan tidak tahu siapa dia di kehidupan sebelumnya. Tapi Engkau mengirimnya untuk menggantikan 'dia' yang lain. Aku menerimanya & menjaganya. Jika memang ia jodohku, biarkan dia bertahan menjaga hati yang aku titipkan...

Ketika mataku hanya tertuju kepada dia satu-satunya dan menutup mata untuk sosok yang lain, aku bahagia. Aku setia karena terbiasa untuk tidak menyakiti. Aku menjaga hati yang ia titipkan kepadaku, aku memupuk semua rasa menjadi semakin tinggi membubung. Aku memujinya setinggi langit, menempatkan dia prioritas pertamaku, menjadikan ia kebutuhan primerku. Cintanya terlalu dalam menancap kedalam kehidupanku, hingga aku rela mematuhi segala permintaannya. Hingga aku tidak sadar, dimana aku yang asli. Jika memang semua demi kebaikan, aku akan menerimanya dengan lapang. Karena aku wanita dan memang seharusnya adalah aku yang dipimpin.

Aku memujanya, terlalu memandang baik semua yang ada padanya. Itu bukan tanpa alasan, tetapi memang aku sudah jatuh dan menyerah kalah. Jatuh dipeluknya, aku menyerah untuk dimiliki. Aku tidak pernah memikirkan saat-saat dimana jika 'mungkin suatu hari dia bisa menyakiti'. Bahkan sekalipun aku tidak pernah mempunyai fikiran buruk seperti itu. Aku menyayanginya dan itu kebutuhanku.

His smell, his voice, his scent, his face and everything always about him. Mungkin saja aku bisa gila jika saja dia tiba-tiba lenyap.. hahaha

Dia adalah orang pertama yang mampu meruntuhkan segala ego dan gengsi ku. Aku ingat, aku bukanlah orang yang bisa kemana-mana pergi hanya menggunakan sandal jepit dan dia bisa membuatku melakukannya tanpa rasa malu yang mengikuti.

Dia menyempurnakanku dan selalu begitu. Kagum ku padanya sudah diatas rata-rata, lebih kepada obsesi. Dia yang pernah theis kepadaku dan taringnya menancap disini begitu dalam. Mungkin aku termakan omonganku sendiri, bahwa laki-laki bukanlah mahluk yang harus dipuja dan digilai.

Janji-janji yang pernah terucap, disaksikan Prambanan dan jalan malam malioboro yang sudah mulai sepi. Tangannya masih tetap menggandengku, menuntun jalanku yang terseok karena lelah .. senyum yang selalu terhias di wajahnya, pandangan sayu yang meneduhkan. Kedamaian berhasil memelukku jika aku bersamanya.

Ah, bernostalgia mengingat moment yang sudah setahun lebih terjadi memang tidak membuat semua keadaan membaik. Kekaguman dan rasa hormat ini berangsur memukulku mundur perlahan, aku terjebak.

Aku membatasi pergaulankau dengan teman-teman lelaki hanya untuk menghormatinya, aku menjauhkan diri dari sosialku hanya untuk menyenangkannya, aku berusaha agar bisa menghilangkan semua kekhawatiran dihatinya.

Tetapi dia berubah....

Terhitung sejak 2 minggu terakhir. Dia melakukan hal-hal yang tidak biasa. Dia adalah dia tetapi bukan dia. Aku tahu dia tidak punya cukup waktu untukku beberapa minggu ini, tapi aku hanya meminta agar tidak membuatku khawatir .. aku ingin dia menyapaku, memberi tahu apa yang dia lakukan selama tidak menghubungiku .. apakah permintaanku terlalu berlebihan? apa bisa aku mengabaikan dia?

Dia menjanjikan sebuah surprise .. kala itu adalah boneka, hahaha aku bukan anak-anak. Surprise bukan hal penting lagi, yang aku butuhkan bahwa ia yang dulu selalu ada untuk menyapa pagiku, mengatakan I love you setiap kali akan tidur, mendo'akan ku dari jauh dan menjaga ku setiap saat.

2 hari yang lalu aku bertemu dengannya, meski beberapa hari sebelumnya pernah bertengkar hebat karena rinduku yang memaksa untuk berontak. Dan aku bahagia hanya karena bisa menatap dirinya langsung, tapi hatiku sudah sakit sedari kemarin. Namun apalah artinya sakit selama aku masih bisa menggenggam tangannya? memainkan jemarinya dan duduk disampingnya ... itu adalah hal paling menyenangkan sebelum semua ini terjadi.

Yaa.. untuk pertama kalinya dia berbohong ~ bohong yang menurutnya adalah untuk kebaikanku. Tapi tetap saja itu menyakitkan, aku dengan percaya diri mengatakan bahwa 'dia tidak mungkin seperti itu!'. Namun faktanya adalah aku yang salah menilai.

Tetap saja bagaimanapun ceritanya, tetap ada nama lain yang terselip di cerita ini. Aku tidak suka. Tapi aku bisa memaafkan dan memang seharusnya begitu. Bukankah cinta adalah tentang pengorbanan, kesalahan dan maaf?

Aku ingin dia yang dulu, yang theis kepadaku. Yang meniadakan nama-nama lain di hidupnya, dia yang selalu bijaksana, keren dan tidak menjijikkan. Aku menginginkannya lebih. Dan tak akan pernah bisa menghapusnya, karena janjiku adalah hanya kematian yang bisa merenggut semua ini.

Dan jika dia bersikap 'terlalu' kepada wanita lain selain diriku, sebenarnya aku bisa saja membalas. Tapi maaf, aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aku malu jika status ku yang tidak lagi single berulah seperti itu. Aku harusnya memikirkan bagaimana perasaan pasanganku jika tau? apa dia bisa menerima ini semua?? .. ya meski bagiku hanya biasa dan cuma gurauan. Tapi bisakah ia? .. aku rasa semua wanita juga akan marah jika ada pada posisiku. Terbukti dari beberapa kawan yang aku tanyai, ada yang langsung minta putus, ada yang marah besar, ada yang menyuruh menutup semua koneksi, ada yang hanya menangis.

Aku memutuskan tidak akan ada pernikahan untuk tahun depan, aku tidak tahu .. mungkin aku akan yakin kembali ketika dia sudah menjadi milikku satu-satunya seperti yang dulu. Memori 5 April 2012 di Jogja ... ..

Dia yang selama ini membuat aku menjadi bergantung padanya, dia yang selalu melindungiku hingga aku takut untuk melangkah sendiri. Tapi stop! aku bisa melakukan apapun sendirian mulai sekarang. Aku akan bangkit dan menarik diriku yang dulu, yang telah lama tertidur untuk bangun dan menjadi aku yang dulu. Arogan, apatis dan bahagia dengan kesendirian.

Jika hanya dengan menggenggam tanganmu saja sudah membuatku bahagia, apa itu masih terlalu berlebihan untukmu ???








No comments:

Post a Comment

GAK KOMEN = GAK KEREN