Friday, 24 May 2013

Fobia Sosial


Jadi inget, dulu waktu kuliah sering dibilang fobia sosial gegara saya sulit diajakin main keluar sama temen-temen. Entah itu nge-mall, nonton, belanja ataupun sekedar berburu kuliner. Kebanyakan ajakan mereka saya tolak, emang susah sih karena setiap menolak, mereka pun menggerutu dibelakang. Tapi saya acuh, karena dunia saya berada didepan monitor. Saya lebih memilih mengunci diri dikamar kost dan menyendiri. Mungkin itu juga faktor kenapa selama hidup 3,5 tahun di Malang, teman saya hanya itu-itu saja.

Tapi dibalik kebiasaan seorang loner tersebut, sebenarnya ada motif kuat yang membuat saya jarang ikut main dengan mereka. Alasannya yaitu simple, saya ingin berhemat. Karena ketika saya mulai berfoya-foya diluar sana, saya inget tujuan awal saya ke Malang itu buat nuntut ilmu bukan untuk ngehabisin duit. Dan saya juga harus ingat bahwa Ayah saya rela kerja keras, banting tulang dan harus jauh dari keluarga .. mulai dari Indonesia bagian timur sampai Indonesia bagian barat beliau jajaki hanya demi menyekolahkan saya. Saya hanya merasa beruntung saja karena mampu meraup pendidikan sejauh ini. Tinggal minta, dikasih .. begitu kasarnya. 

Jadi sebenarnya, saya bukannya fobia sosial. Tapi memang dulu itu terlalu banyak yang harus saya manage sehingga kebutuhan yang bersifat tersier seperti itu bisa terhindarkan dengan sengaja. 

Dan banyak hal positif lainnya dari hidup seperti itu, saya jadi bisa beli gadget dengan tabungan saya sendiri tanpa harus ngemis ortu :v

Tuesday, 14 May 2013

Takdirku Bukan di Kamu



Pagi ini begitu menyejukkan, entah kenapa aku merasakan kedamaian disini semenjak kepergiannya. Hati ku terasa bebas lepas tanpa beban, aku mensyukuri perpisahan dengannya. Dengan pria yang sudah setahun ini sempat mengisi relung jiwaku dan selama setahun itu membuatku merasa terpenjara. Membuatku terasing dari dunia ku dan teman-temanku.

“Kinan!!” teriak Bertha dari kejauhan. Aku melihat sosok penganut femininitas ini dari jauh, dia melambai ke arahku. Senyumnya menyeringai manis, rambutnya berkibar menyapa angin dan kalau saja aku melihat dari kacamata seorang cowok mungkin seketika aku akan jatuh cinta dengan sosok ini.

            Aku membalas lambaian tangan Bertha dan ia berlari kecil ke arahku, manis sekali tingkah gadis ini. Dan entah kenapa aku begitu merindukan sosoknya yang sudah setahun ini sempat menjauh dari kehidupanku. Bertha berlari menyongsongku dan memelukku.

“I miss you so much darl!” Bertha membisikkan kata itu tepat ditelingaku. Aku bisa merasakan nafasnya dan degup jantungnya yang tidak teratur. Aku tahu bahwa kebahagian Bertha sedang meluap-luap.

“I miss you too, maaf ya .. aku baru kembali sekarang” jawabku lirih. Jika ada orang lain yang menonton adegan ini, pasti mereka menyangka kami adalah sepasang lesbian yang sedang melepas rindu.

            Bertha melepaskan pelukannya dan duduk disampingku, dibangku taman kampus ini kami dulu sering menghabiskan waktu bersama hanya untuk mengobrol atau sekedar untuk melepas penat akan mata kuliah yang seringkali membunuh.

“Jadi?..” tanya Bertha kemudian. Ekspresinya penuh dengan rasa penasaran, mukanya yang seperti buah plum membuatku gemas. Aku menghela napas dan membuang jauh pandangan kedepan.

“Aku akhirnya bebas dari penjara yang aku buat sendiri, aku terlalu lama bertahan dan menikmati ketersiksaaan itu. Meninggalkan kamu, meninggalkan semua orang-orang yang peduli terhadapku dan mencampakkan duniaku. Berlagak jadi munafik dan pada akhirnya aku kehilangan diriku sendiri” aku menghirup oksigen dalam-dalam dan merilekskan diri.

“Tapi kamu yakin akan keputusanmu? Orang tua mu bagaimana?” tanya Bertha lagi.

“Well, aku melakukan semuanya dulu juga demi papa sama mama. Tapi aku sadar, aku bukan boneka yang selamanya bisa diatur oleh skenario yang mereka buat. Tapi disatu sisi, aku ingin mengabdi kepada mereka. Dan setahun bersama Bagas adalah bukti pengabdianku, aku mencoba untuk bertahan selama mungkin bersama Bagas. Tapi akhirnya batinku sendiri yang meronta dan berontak. Semakin lama aku bersamanya, semakin aku tidak mengenali diriku sendiri.” Bertha menepuk pundakku dan memberi pandangan prihatin terhadapku.

“Aku membuat keputusan besar dengan memilih meninggalkan Bagas dan keluar dari rel yang sudah mereka buatkan untukku. Aku keluar dari zona aman dan berusaha menantang takdirku sendiri. Sejauh ini aku masih yakin bahwa takdir ku memang bukan bersama Bagas. Penjara yang Bagas buatkan untukku selama setahun ini benar-benar membuatku nyaris gila. Terlalu banyak aturan dan terlalu banyak larangan. Aku seperti hidup didalam sebuah game, game yang dimainkan oleh orang lain.” Aku menunduk dan ingin sekali berteriak, emosi ku mulai terpancing. Bertha terus berusaha menenangkanku dengan membelai lembut pundakku.

“Dan seminggu setelah berpisah dengan Bagas, aku seperti terlahir kembali dan menjadi diriku sendiri. Diriku yang dulu, yang sempat hilang.” Lanjutku.

            Bagas adalah lelaki pilihan kedua orang tuaku, mereka yakin bahwa dengan bersama Bagas seluruh kehidupanku akan terjamin dan kebahagiaan akan menghampiriku. Tetapi pada nyatanya, bersama Bagas sama halnya dengan menyerahkan kehidupan kepada seorang pemuja kehidupan perfectsionist.

“Lalu bagaimana dengan papa sama mama mu? Mereka mau terima keputusanmu?!” tanya Bertha kemudian.

“Awalnya tidak, tentu saja tidak.” Aku mengambil nafas dalam-dalam dan memberikan jeda dalam obrolan berat ini.

“Perlu proses yang lama meyakinkan kepada mereka bahwa Bagas bukan yang terbaik. Aku sempat depresi dan down karena terlalu banyak pressure yang aku dapat dari keadaan. Dan mama sepertinya belum kehilangan naluri keibuannya, mama tahu kalau aku tersiksa. Lalu entah kenapa, keadaan menjadi baik dan berbalik mendukungku” lanjutku kemudian.

“Selamat ya darl, aku turut bahagia atas kebebasanmu dan selamat datang kembali ke kehidupanmu” Bertha kembali memelukku. Harusnya diatmosfir yang seperti ini aku menangis, tapi air mata ku sepertinya sudah terkuras habis kemarin-kemarin. Aku menyunggingkan senyum kecil dan semakin erat memeluk Bertha.

***
“Hei, lihat siapa yang datang??!” seru Adnan menyambutku.

“Hay guys! Miss you all a lot!” aku melemparkan senyum kepada ketiga cowok didepanku ini. Mereka adalah Adnan, announcer di fakultas ku lalu ada si kembar Ferry dan Ferdy. Si kembar kompakan melotot ke arahku.

“Si anak yang hilang sudah kembali ke pelukan kita!!” seru keduanya. Aku tertawa dan tak pernah sebahagia dan sebebas ini. Aku masih beruntung karena memiliki teman-teman karib yang mau menerimaku kembali setelah aku meninggalkan mereka selama setahun ini.

Dan yang terpenting sekarang aku adalah Kinan yang dulu, bukan Kinan yang bak putri dari kerajaan antah berantah. Dipaksa untuk menjunjung etika dan attitude setinggi mungkin. Aku sekarang bisa bernafas lega karena terlepas dari jerat aturan dan larangan yang membelit.

“Pilihanmu ada ditanganmu, takdirmu ada digenggamanmu”



.